Biomekanika Teknologi Ilmu Fisika Kedokteran

Biomekanika Teknologi Fisika Kedokteran

Biomekanika Teknologi Fisika Kedokteran

Biomekanika

Ada 12 (dua) bidang yang termasuk dalam fisika kedokteran yaitu : Bidang Kedokteran dan bidang fisika. Oleh karena itu fisika kedokteran berperan dalam 2 hal, meliputi :
1. Penggunaan ilmu fisika untuk menentukan fungsi tubuh meliputi kesehatan dan penyakit. Dalam hal ini dapat disebut faal fisika.
2. Penggunaan fisika dalam praktek kedokteran meliputi pengetahuan tentang benda/alat yang dipergunakan dalam bidang kedokteran yaitu alat ultrasonik, laser, radiasi dan sebagainya.
Pada generasi terdahulu di Inggris, seorang profesor ahli dalam bidang fisika juga merupakan seorang dokter. Kata ahli fisika "physicist" dan dokter "physicia" mempunyai asal kata yang sama dalam bahasa Yunani yaitu "Physike" (Ilmu Alam).
Dalam perkembangan selanjutnya fisika kedokteran merupakan cabang dari ilmu kedokteran dan merupakan salah satu bidang dalam biofisik. Di Amerika Serikat para fisika kedokteran bekerja pada bidang fisika radiologi, meliputi proteksi radiasi, penggunaan radiasi dalam diagnostik dan pengobatan penderita dengan radiasi.
Fisika Kedokteran dibagi dalam beberapa sub divisi yaitu :
a. Fisika Kesehatan
b. Kedokteran enginering.

Pengukuran


Fisika maupun disiplin ilmu lain pengukuran kwantitas merupakan dasar utama. Dalam pengukuran ini akan di cari korelasi atau interpretasi dan sering pula diadakan perbandingan dengan prediksi teoritis. Hal-hal yang meliputi pengukuran kwantitas ini adalah sistem satuan internasional atau disingkat dengan sistem SI (System International Unit) atau Satuan Metrik.

Proses Pengukuran 


Pada abad ini seiring dengan pertumbuhan ilmu kedokteran, bilangan dan ketelitian dari pengukuran kwantitas dalam praktis klinik sangat ditingkatkan. Hal ini oleh karena hasil pengukuran itu dapat memberikan informasi yang sangat berharga tentang gambaran keadaan tubuh dan hasil pengukuran itu dipakai sebagai bahan perbandingan. 
Dalam pengukuran fisik dibagi dalam 2 (dua) group yaitu :

a. Proses Pengukuran Pengulangan

Pada proses ini biasanya melibatkan sejumlah pengulangan perdetik, permenit, perjam dan sebagainya. Misalnya pengukuran pernafasan diperoleh nilai pernafasan rata-rata (breathing rate) kira-kira 15/meni, denyut nadi 70/menit)
b. Proses Pengukuran yang tidak ulang

Proses pengukuran ini hanya dilakukan sekali terhadap individu. Misalnya mengukur subtansi asing yang dikeluarkan lewat ginjal; potensial aksi dari suatu sel saraf.

Pada proses pengukuran ini, perlu perhatian "ketelitian (accuracy) dan kebenaran (precision). Ketelitian dan kebenaran mempunyai arti yang sangat berbeda dalam pengukuran. Ketelitian (acuracy) menunjukkan pengukuran yang bagaimana memberikan pendekatan untuk memperoleh suatu standar. Suatu contoh, tinggi seseorang ketika di ukur di peroleh 1,765 meter, ketelitian mungkin 0.0003 (=33 mm) di bandingkan dengan patokan (standar) meter.

Untuk memperoleh ketelitian diperlukan suatu pengukuran berkali-kali, kemudian dicari  rata-rata akhir dari kesemuanya  itu dan dicari standar Deviasi.

Momentum

Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi tabrakan, misalnya pemain sepak bola, petinju atau mobil. Gaya yang bekerja selama tabrakan berlangsung sering kali sulit untuk ditentukan, walaupun penggunaan langsung hukum Newton kedua. Apabila terjadi tabrakan antara dua objek, maka penggunaan momentum sangat berhasil, oleh karena total momentum dari kedua objek selalu tetap, walaupun momentum tiap objek akan berubah.