Cara Meningkatkan Produksi Biogas Berlipat Ganda

Sepuluh kilogram potongan bambu masing-masing sepanjang 10 cm itu menumpuk di dasar digester biogas. Sampah? Bukan, sebab Ir Wiharja dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi memang sengaja meletakkan bambu-bambu itu sebagai “asrama" bakteri metanogen. Makhluk liliput itu penghasil gas metana yang berfaedah untuk bahan bakar atau penerangan. Berkat asrama itu, populasi bakteri pun meningkat sehingga penguraian limbah organik efektif.
Produksi Biogas Berlipat Ganda Dengan Potongan Bambu

Digester berkapasitas 5.000 liter limbah cair Itu mampu menghasilkan 24.000 liter biogas per hari. Artinya setiap pengolahan 100 kg kedelai menjadi tahu, akan menghasilkan 4.000 liter biogas. Padahal, di instalasi biogas pada umumnya, hanya menghasilkan 1.500 liter biogas dari bahan baku sama. Sebanyak 19 produsen tahu di Desa Kaiisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengolah 960 kg kedelai per hari. Namun, hanya dua pertiga dari total produksi itu yang limbahnya tertampung. Biogas sebanyak itu 24.000 liter-memenuhi kebutuhan bahan bakar 27 rumah tangga.


Produksi biogas di Kaiisari itu sangat tinggi karena memanfaatkan potongan bambu. Sejatinya perancang biogas lazim menerapkan teknik asrama bakteri menggunakan bahan plastik, yang bentuknya menyerupai sarang lebah. Disayangkan, “Harganya terbilang tinggi sehingga tidak aplikatif di lapangan,” kata Ir Wiharja.
 Potongan Bambu Melipatgandakan Biogas

Untuk menekan biaya, Wiharja memanfaatkan bambu. Permukaan batang tanaman anggota famili Poaceae itu berpori sehingga cocok menjadi tempat melekat bakteri. Sudah begitu, bambu relatif murah dan mudah didapat. Namun, bambu mudah lapuk sehingga pengelola digester mesti mengganti bambu setiap 5 tahun. Toh, itu tidak menjadi masalah. “Yang penting biaya keseluruhan menjadi terjangkau," tutur peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Ir Prasetiyadi.

Wiharja mengatakan bahwa tidak semua bambu cocok menjadi asrama bakteri, la menyarankan bambu berrongga pendek seperti bambu tali Giganto chloaapus. "Bambu berrongga besar seperti bambu betung Dendrocalamus asper tidak efektif menyerap bakteri,” tutur Wiharja. Musababnya, berrongga besar luas permukaannya lebih kecil sehingga bakteri yang menempel sedikit

Untuk membuat asrama bakteri, pekerja memilih bambu tali berdiameter 5-10 cm lalu memotong-motong sepanjang 10-15 cm. Berikutnya, ia memasukkan bambu ke dalam jaring untuk mempermudah mengangkat di akhir proses. Setiap jaring berisi sekitar 10 kg potongan bambu. Selanjutnya, ia mencampurkan 4 m3 kotoran sapi dalam 20 m3 air. la merendam setiap 10 kg potongan bambu dalam larutan itu selama 25 hari, lalu meletakkan di dasar digester.

Perendaman bambu dalam larutan kotoran satwa karena limbah tahu minim bakteri metanogen. “Kotoran sapi secara alami mengandung bakteri metanogen dari lambung rumen sapi sehingga baik digunakan sebagai pemancing,’’ tutur Yaya Sudrajat, periset di Pusat Penelitian Listrik dan Mekatronika LIPI, Bandung, Jawa Barat. Selanjutnya, pekerja mengisi digester berbentuk kubah berdiameter 4 m setinggi 3 m itu dengan bambu berbakteri.

Sebuah penyangga berbahan plastik dan berpori menopang potongan bambu dalam digester. Sekilas mirip saringan pada dandang (lihat Ilustrasi). Setelah itu limbah cair segera mengalir ke dalam digester. Gas muncul selang lima hari berikutnya. Setelah biogas terbentuk lalu mengalir ke kompor, dan siap digunakan untuk memasak,” tutur Wiharja.

Sejatinya instalasi biogas yang dibangun pada 2009 dengan bantuan Kementerian Riset dan Teknologi bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi itu belum sepenuhnya mengatasi masalah limbah tahu. Harap maklum, ada 312 industri tahu skala rumahan di desa seluas 204,3 ha itu. “Itu sebabnya pada 2010 dibangun lagi satu instalasi biogas yang menampung limbah tahu dari tujuh produsen berkapasitas 325 kg kedelai per hari,” tutur Wibowo, kepala Desa Kalisari.

Instalasi kedua itu memenuhi kebutuhan bahan bakar di 18 rumah tangga. Rumah tangga pengguna biogas membayar iuran Rp 20.000 per bulan untuk biaya perawatan. Menurut Warni Darno, pengguna biogas limbah tahu sejak 2009, harga itu sangat murah. Sebelumnya, produsen tahu berusia 57 tahun itu menghabiskan 3 tabung elpiji ukuran 3 kg dalam sebulan. Dengan harga per tabung Rpl7.000, biaya pembelian gas Rp 51.000 per bulan.

Menurut Wibowo keberadaan instalasi biogas di desanya berefek ganda: sebagai solusi bahan bakar sekaligus mengurangi pencemaran. Maklum, industri tahu skala rumahan membuang limbah cair langsung ke selokan, yang selanjutnya berakhir di sungai. Berkat Instalasi biogas, warga terbebas dari bau tak sedap limbah tahu.

Sumber : Majalah Trubus Edisi 512